BBTN Siap Tumbuh dengan Suku Bunga yang Menurun: Analisis Hasil Kuartal II 2025
Bank Tabungan Negara (BBTN), bank mortgage terbesar di Indonesia, menunjukkan sinyal positif di kuartal kedua 2025 meski menghadapi beberapa tantangan. Dengan Net Interest Margin (NIM) yang meningkat signifikan dan prospek pertumbuhan yang didukung program pemerintah, BBTN bersiap meraih momentum pertumbuhan yang lebih baik di semester kedua tahun ini.
Kinerja Keuangan: Laba Turun Kuartalan, Naik Tahunan
BBTN mencatat laba bersih konsolidasi sebesar IDR 802 miliar pada kuartal II 2025, turun 11,3% secara kuartal-ke-kuartal (QoQ) namun naik 24,9% secara year-on-year (YoY). Penurunan laba kuartalan ini terutama disebabkan oleh lonjakan drastis penyisihan kerugian kredit yang meningkat 174% QoQ menjadi IDR 2,7 triliun.
Meski demikian, kinerja semester pertama 2025 menunjukkan tren positif dengan total laba IDR 1,7 triliun, naik 13,6% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pencapaian ini mencapai 46,2% dari target tahunan perusahaan dan sejalan dengan konsensus pasar.
NIM Melejit: Sinyal Perbaikan Profitabilitas
Salah satu highlight utama dari laporan ini adalah lonjakan NIM yang mencapai 4,4% di kuartal II 2025, naik signifikan dari 3,6% di kuartal sebelumnya. Peningkatan ini didorong oleh kenaikan yield aset sebesar 104 basis poin secara tahunan, yang sebagian besar disebabkan oleh perubahan perlakuan akuntansi.
Pendapatan bunga bersih (NII) mengalami pertumbuhan luar biasa sebesar 55,1% YoY menjadi IDR 9,3 triliun, mencerminkan efektivitas strategi manajemen dalam mengoptimalkan portofolio aset berbunga.
Pertumbuhan Kredit Didukung Program Pemerintah
Total kredit BBTN mencapai IDR 376 triliun, tumbuh 6,8% YoY. Pertumbuhan ini didorong oleh ekspansi kredit mortgage sebesar 7,4% YoY dan kredit korporasi yang melonjak 18,4% YoY. Komposisi portofolio kredit tetap didominasi oleh kredit mortgage bersubsidi yang mencapai 48% dari total portofolio.
Program KUR (Kredit Usaha Rakyat) perumahan yang baru diluncurkan melalui Permenko No.13/2025 diperkirakan akan menjadi katalis pertumbuhan baru. Program ini menawarkan kredit hingga IDR 500 juta dengan bunga 6% untuk pembeli rumah, sementara developer dapat mengakses kredit modal kerja hingga IDR 20 miliar.
Tantangan Kualitas Aset
Gross NPL (Non-Performing Loan) BBTN tetap stabil di level 3,3%, namun masih berada di atas rata-rata industri perbankan. Rasio LAR (Loss Absorbance Ratio) turun menjadi 20,2% dari 21,2% pada periode yang sama tahun lalu, menunjukkan sinyal perbaikan awal meski Cost of Credit naik menjadi 2,0%.
Manajemen menargetkan penurunan gross NPL ke level di bawah 3,1% pada akhir 2025, dengan perhatian khusus pada segmen non-subsidi senilai IDR 350-500 juta yang mengalami puncak NPL di semester pertama 2025.
Outlook dan Strategi 2025
BBTN merevisi panduan pertumbuhan kredit menjadi 7-9% (sebelumnya 7-8%), didukung oleh program FLPP dan skema KUR perumahan. Target disbursement FLPP 2025 ditetapkan sebesar 350 ribu unit dengan anggaran IDR 31 triliun.
Panduan pertumbuhan dana pihak ketiga juga dinaikkan menjadi 8-10%, didukung oleh bauran pendanaan yang lebih seimbang. Namun, manajemen menaikkan panduan Cost of Credit menjadi lebih dari 1,5% (dari 1,0-1,1%) akibat upaya front-loading provisioning di semester pertama untuk memulihkan coverage ratio NPL.
Rekomendasi Investasi
Samuel Sekuritas menaikkan rekomendasi BBTN dari SELL menjadi BUY dengan target harga IDR 1.600, memberikan potensi upside 29% dari harga penutupan IDR 1.240 per saham. Rekomendasi ini didukung oleh ekspektasi perbaikan NIM berkelanjutan di semester kedua 2025 seiring dengan penurunan cost of funds mengikuti pemotongan suku bunga BI sebesar 100 basis poin.
Katalis utama yang dapat mendorong kinerja saham antara lain percepatan disbursement FLPP, eksekusi sukses program KUR, dan pemulihan CASA ratio. Meski tantangan struktural dalam kualitas aset dan bauran pendanaan masih ada, kondisi kebijakan saat ini lebih memberikan peluang daripada risiko.
Kesimpulan
BBTN berada di titik balik dengan fundamental yang membaik didukung oleh program pemerintah dan lingkungan suku bunga yang kondusif. Meski masih menghadapi tantangan kualitas aset, bank mortgage terbesar Indonesia ini memiliki posisi strategis untuk memanfaatkan momentum pertumbuhan sektor perumahan nasional. Investor dapat mempertimbangkan BBTN sebagai pilihan investasi dengan potensi return menarik dalam 12 bulan ke depan.