Saham Jawara

Portal analisis saham dan investasi terpercaya
Analisis Saham

Saham TIRT, Apakah Akan Menjadi Saham Multibagger Berikutnya ?

Admin 06 September 2025 602 views
Saham TIRT, Apakah Akan Menjadi Saham Multibagger Berikutnya ?
PT Tirta Mahakam Resources Tbk (TIRT) tengah menghadapi salah satu periode paling menantang dalam sejarah perusahaan. Emiten yang bergerak di industri kayu lapis ini kini berupaya melakukan transformasi bisnis radikal untuk menyelamatkan kelangsungan usahanya setelah mengalami suspensi perdagangan saham sejak 21 Januari 2025. Harga Saham TIRT saat ini parkir di harga 44. Dengan adanya pergantian lini bisnis dan pinjaman yang didapat dari pengendali maka berapa harga Saham TIRT akan menuju ?

Perjalanan Panjang Menuju Krisis, Momentum Kebangkitan di Depan Mata ?

PT Tirta Mahakam Resources Tbk (TIRT) tengah menghadapi salah satu periode paling menantang dalam sejarah perusahaan. Emiten yang bergerak di industri kayu lapis ini kini berupaya melakukan transformasi bisnis radikal untuk menyelamatkan kelangsungan usahanya setelah mengalami suspensi perdagangan saham sejak 21 Januari 2025.

Perusahaan yang memulai produksi komersialnya pada November 1983 ini berkantor pusat di Jakarta dengan fasilitas produksi berlokasi di Desa Bukuan, Samarinda, Kalimantan Timur. Selama puluhan tahun, TIRT fokus pada industri kayu lapis dan produk kayu sejenis, namun perjalanan bisnis tersebut mengalami kemunduran drastis sejak triwulan kedua 2020 ketika operasional perusahaan dihentikan.

Kondisi keuangan TIRT pada semester pertama 2025 menunjukkan gambaran yang mengkhawatirkan. Penjualan bersih perusahaan hanya mencapai Rp33,06 juta, angka yang sangat kecil dibandingkan dengan skala operasional perusahaan sebelumnya. Situasi ini diperparah dengan rugi periode berjalan yang mencapai Rp26,43 miliar, sementara posisi ekuitas perusahaan berada dalam kondisi negatif sebesar Rp702,13 miliar. Kondisi keuangan yang buruk inilah yang menjadi dasar Bursa Efek Indonesia untuk melakukan suspensi perdagangan saham TIRT karena adanya keraguan atas kelangsungan usaha perseroan.

Struktur Kepemilikan dan Modal

Dalam hal struktur permodalan, TIRT memiliki modal dasar sebesar Rp500 miliar yang terbagi dalam 4 miliar saham. Dari jumlah tersebut, modal yang telah ditempatkan dan disetor mencapai Rp126,47 miliar atau setara dengan 1,01 miliar saham. Komposisi kepemilikan saham didominasi oleh PT Harita Jayaraya sebagai pemegang saham pengendali dengan porsi 73,54% atau senilai Rp93 miliar. Sisanya dimiliki oleh Koperasi Karyawan PT Tirta Mahakam Plywood Industry (0,13%), KUD Budi Rahayu (0,09%), dan masyarakat umum (26,24%).

Strategi Pemulihan dan Transformasi Bisnis

Menghadapi krisis yang berkepanjangan, manajemen TIRT telah menyusun rencana pemulihan yang ambisius dengan target mencabut suspensi saham. Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan pada 16 Juli 2025, perusahaan menargetkan finalisasi perubahan kegiatan usaha utama pada Juli-Agustus 2025. Proses ini akan didukung oleh laporan dari pihak independen, termasuk feasibility study industri pelayaran, penilaian aset, dan opini kewajaran dari Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP), serta audit laporan keuangan periode interim 2025 dari Kantor Akuntan Publik.

Puncak dari proses transformasi ini adalah penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 25 September 2025. Agenda utama RUPSLB mencakup persetujuan perubahan kegiatan usaha utama perseroan, perubahan susunan direksi dan komisaris, serta rencana transaksi material dan transaksi afiliasi sesuai dengan ketentuan POJK 17 dan POJK 42.

Rencana transformasi bisnis TIRT melibatkan perubahan fundamental dari industri kayu lapis dan produk kayu sejenis menjadi industri angkutan laut dengan kode KBLI 50131 dan 50133, serta aktivitas penunjang pertambangan dengan kode KBLI 09900. Perubahan ini bukan sekadar perubahan nama, melainkan transformasi total model bisnis perusahaan.

Untuk mendukung bisnis baru ini, TIRT merencanakan pembelian 20 unit kapal yang terdiri dari 10 set tugboat dan barge dengan nilai transaksi mencapai Rp162,098 miliar atau setara dengan 98,75% dari total aset perusahaan. Kapal-kapal tersebut akan dibeli dari pihak berelasi, yaitu PT Lima Srikandi Jaya, PT Mitra Kemakmuran Line, dan PT Antar Sarana Rekasa.

Mengingat kondisi keuangan perusahaan yang terbatas, TIRT akan mengandalkan pinjaman dari PT Harita Jayaraya selaku pemegang saham pengendali. Total fasilitas pinjaman yang akan diberikan mencapai maksimal Rp200 miliar atau setara dengan 121,84% dari total aset perusahaan. Dana tersebut akan dialokasikan untuk pembelian kapal sebesar Rp180 miliar dan modal kerja sebesar Rp20 miliar.

Simulasi dampak transaksi terhadap neraca perusahaan menunjukkan perubahan signifikan dalam struktur keuangan TIRT. Total aset perusahaan diproyeksikan meningkat dari Rp164,16 miliar menjadi Rp326,25 miliar, didorong terutama oleh penambahan aset tetap berupa kapal senilai Rp162,1 miliar. Di sisi liabilitas, utang kepada pemegang saham akan bertambah Rp200 miliar, sementara total ekuitas akan semakin negatif menjadi Rp740,03 miliar.

Dari sisi operasional, manajemen memproyeksikan pendapatan dari bisnis angkutan laut akan mencapai Rp29,21 miliar untuk periode enam bulan pertama operasi dengan margin laba bersih 33,78% atau sekitar Rp9,87 miliar. Untuk operasi penuh satu tahun, pendapatan diproyeksikan mencapai Rp104,03 miliar dengan laba bersih Rp33,83 miliar atau margin 33,52%.

What Next ?

Harga Saham TIRT saat ini parkir di harga 44. Menurut penulis dengan adanya pergantian lini bisnis dan pinjaman yang didapat dari pengendali maka pendekatan valuasi yang bisa dilakukan untuk saat ini adalah :

Pendekatan PE Rasio

Saat ini PE TIRT adalah -0.84 (karena mengalami kerugian) dengan asumsi pada 2026 akan memperoleh laba 33.83 miliar dan dengan jumlah saham beredar 1 miliar maka EPS adalah 33.43. sehingga apabila kita ambil range PE untuk perusahan kapal sejenis adalah 10x-15x maka harga wajar dengan range PE tersebut adalah antara 334 hingga 500. dari harga 44 maka upside adalah 600% hingga 1040%.

Pendekatan Right Issue

Pengendali juga kemungkinan akan melakukan right issue untuk  recover equitas negatif dari TIRT. ekuitas proforma setelah mendapat pinjaman adalah minus 740miliar.  Dengan saham beredar 1 milar maka asumsi untuk menutup ekuitas negatif adalah minimal di harga 740.

Disclaimer : Tulisan di atas bukan ajakan jual beli. keputusan investasi menjadi tanggung jawab masing-masing.

 

 

Bagikan Artikel