Saham Jawara

Portal analisis saham dan investasi terpercaya
Analisis Saham

Laba Kuartal 2 2025 Saham SUNI Tertekan, Ini penyebabnya

Admin 31 July 2025 210 views
Laba Kuartal 2 2025 Saham SUNI Tertekan, Ini penyebabnya
Pada Rilis Laporan Keuangan kuartal 2025, Saham SUNI terlihat tertekan dari sisi Laba. Pada artikel kali ini kita bisa melihat apa saja penyebabnya

Berdasarkan laporan keuangan PT Sunindo Pratama Tbk untuk semester I 2025, berikut adalah analisis penyebab turunnya laba di kuartal ke-2:

Perbandingan Kinerja Keuangan

Laba Bersih:

Semester I 2025: Rp90,69 miliar 

Semester I 2024: Rp124,17 miliar. Penurunan: 26,9% atau Rp33,48 miliar

Faktor-Faktor Penyebab Penurunan Laba:

  1. Penurunan PenjualanSemester I 2025: Rp438,17 miliarSemester I 2024: Rp522,39 milia Penurunan: 16,1% atau Rp84,22 miliar
  2. Peningkatan Beban Operasional. Beban Pokok Penjualan meningkat dari Rp332,76 miliar menjadi Rp295,85 miliar (sebenarnya turun). Beban Usaha meningkat dari Rp33,22 miliar menjadi Rp34,83 miliar (naik 4,8%)
  3. Struktur Margin yang Tertekan. Gross Profit Margin 2025: 32,5% vs 2024: 36,3%. Meskipun beban pokok penjualan turun secara absolut, penjualan turun lebih drastis
  4. Faktor Keuangan. Beban keuangan turun drastis dari Rp493,29 juta menjadi Rp51,31 jutaPendapatan keuangan naik dari Rp1,82 miliar menjadi Rp4,46 miliarHal ini sebenarnya membantu, tapi tidak cukup mengompensasi penurunan operasional
  5. Beban PajakBeban pajak turun dari Rp34,01 miliar menjadi Rp22,24 miliar

Analisis Segmen Penjualan

Komposisi Penjualan Berdasarkan Produk:

Semester I 2025:

Sale of Goods (Penjualan Barang): Rp438,03 miliar (99,97%)

Services Revenue (Pendapatan Jasa): Rp143,83 juta (0,03%)

Total: Rp438,17 miliar

Semester I 2024:

Sale of Goods: Rp521,86 miliar (99,90%)

Services Revenue: Rp529,25 juta (0,10%)

Total: Rp522,39 miliar

Breakdown Penjualan Barang:

  • Oil Country Tubular Goods (OCTG):2025: Rp407,60 miliar (93,0% dari total penjualan)2024: Rp493,26 miliar (94,4% dari total penjualan). Penurunan: Rp85,66 miliar (-17,4%)
  • Wellhead dan Christmas Tree:2025: Rp17,92 miliar (4,1%)2024: Rp24,84 miliar (4,8%). Penurunan: Rp6,92 miliar (-27,8%)
  • Lainnya:2025: Rp12,51 miliar (2,9%)2024: Rp3,76 miliar (0,7%). Peningkatan: Rp8,75 miliar (+232,7%)
  • Wellhead Engineering Service:2025: Rp143,83 juta (0,03%)2024: Rp529,25 juta (0,10%). Penurunan: Rp385,42 juta (-72,8%)

Key Findings:

  • Dominasi OCTG yang Menurun. OCTG tetap menjadi segmen utama (93% dari penjualan) Namun mengalami penurunan signifikan 17,4%Ini menunjukkan tekanan di sektor oil & gas
  • Wellhead & Christmas Tree Tertekan BeratPenurunan paling tajam (-27,8%) Menunjukkan penurunan aktivitas drilling/completion
  • Segmen "Lainnya" Tumbuh PesatPeningkatan 232,7% menunjukkan diversifikasi produkNamun kontribusi masih kecil (2,9%)
  • Jasa Engineering Menurun DrastisTurun 72,8%, menunjukkan berkurangnya proyek engineering

Analisis Geografis:

Indonesia (Domestik):2025: 85% dari total penjualan2024: 70% dari total penjualan

Ketergantungan pada pasar domestik meningkat

Negara Asing (Ekspor):2025: 15% dari total penjualan2024: 30% dari total penjualan

Penurunan ekspor yang signifikan

Kesimpulan Strategis:

Tantangan:Core business (OCTG) mengalami kontraksi akibat penurunan aktivitas oil & gasEkspor turun drastis, meningkatkan ketergantungan pasar domestik

Segmen jasa engineering tertekan menunjukkan berkurangnya proyek kompleks

Peluang:Diversifikasi produk di segmen "Lainnya" menunjukkan potensi

Market share domestik masih bisa dioptimalkan

Recovery wellhead products ketika aktivitas drilling meningkat

Rekomendasi:Fokus diversifikasi untuk mengurangi ketergantungan pada OCTG

Penetrasi pasar ekspor yang lebih agresif

Pengembangan value-added services untuk meningkatkan margin

Secara keseluruhan, penurunan penjualan disebabkan oleh kontraksi di core business OCTG dan wellhead products, yang mencerminkan kondisi industri oil & gas yang challenging di semester I 2025.

Bagikan Artikel