Saham Jawara

Portal analisis saham dan investasi terpercaya
Analisis Saham

TINS Catat Laba Bersih Rp300 Miliar di Tengah Tantangan Operasional

Admin 02 August 2025 329 views
TINS Catat Laba Bersih Rp300 Miliar di Tengah Tantangan Operasional
TINS Catat Laba Bersih Rp300 Miliar di Tengah Tantangan Operasional Jakarta, 31 Juli 2025 - PT TIMAH Tbk (IDX: TINS), produsen timah terkemuka dunia, berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp300,07 miliar pada semester I 2025, mencapai 93% dari target yang telah ditetapkan perusahaan sebesar Rp322,64 miliar. Pencapaian ini terjadi di tengah tantangan operasional yang dihadapi perseroan.

Harga timah pada semester pertama 2025 menunjukkan tren stabilisasi setelah mengalami gejolak hebat di awal tahun. Harga London Metal Exchange (LME) tetap terdukung oleh kondisi stok yang ketat dan pasokan terbatas akibat tambang Man Maw di Myanmar yang masih offline hingga Agustus dan smelter Pulau Indah di Malaysia yang belum beroperasi penuh.

Kondisi pasar global menunjukkan sinyal positif dengan ekspor timah Indonesia yang mengalami pemulihan signifikan, naik 177% dalam enam bulan pertama tahun ini dibandingkan periode yang sama di tahun 2024. Permintaan global tetap tinggi, terutama dari industri elektronik seperti tin solder dan tin chemical, yang didorong oleh kebutuhan pasar Jepang dan Tiongkok.

Hingga akhir Juni 2025, persediaan timah di gudang LME berada pada posisi 2.220 ton, turun drastis 53,3% dari awal tahun yang mencapai 4.760 ton. Menurut CRU Tin Monitor, produksi logam timah global di semester I 2025 diperkirakan naik 10,5% menjadi 192.611 ton, sementara konsumsi global naik 3,9% menjadi 191.163 ton.

Meskipun kondisi pasar yang mendukung, TINS menghadapi sejumlah tantangan operasional yang berdampak pada produksi. Produksi bijih timah tercatat 6.997 ton Sn, turun 32% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (10.279 ton Sn). Penurunan ini disebabkan belum optimalnya aktivitas penambangan, dampak cuaca angin utara dan tenggara, kondisi cadangan yang tidak menerus, serta masih terjadinya aktivitas penambangan ilegal.

Produksi logam timah juga mengalami penurunan 29% menjadi 6.870 metrik ton, sedangkan penjualan turun 28% menjadi 5.983 metrik ton. Namun, harga jual rata-rata mengalami peningkatan 8% menjadi USD32.816 per metrik ton, memberikan kompensasi positif terhadap penurunan volume.

Dari sisi distribusi, TINS mencatat komposisi penjualan domestik 8% dan ekspor 92%, dengan enam negara tujuan ekspor utama: Jepang (20%), Korea Selatan (19%), Singapura (16%), Belanda (10%), Italia (5%), dan India (4%).

Meskipun mengalami penurunan pendapatan menjadi Rp4,22 triliun (turun 19% dari Rp5,21 triliun), TINS berhasil menjaga efisiensi operasional dengan menurunkan beban pokok pendapatan 15,6% menjadi Rp3,37 triliun. Laba usaha tercatat Rp380 miliar dengan EBITDA sebesar Rp838 miliar.

Kondisi keuangan perusahaan tetap sehat, tercermin dari indikator-indikator kunci seperti Quick Ratio 63,6% dan Current Ratio 204,1%, menunjukkan kemampuan memenuhi kewajiban jangka pendek. Struktur modal juga terjaga dengan Debt to Asset Ratio 40,8% dan Debt to Equity Ratio 69,0%.

Nilai aset perusahaan pada semester I 2025 tercatat Rp12,33 triliun, sementara posisi liabilitas turun menjadi Rp5,03 triliun akibat pembelian kembali seluruh medium term notes. Posisi ekuitas sebesar Rp7,29 triliun mengalami penurunan 2% karena pembagian dividen tunai sebesar Rp475 miliar.

"Perseroan terus berupaya mengoptimalkan volume produksi melalui peningkatan sumber daya dan cadangan, penambahan armada produksi dan jumlah tambang, pengamanan wilayah Izin Usaha Pertambangan, serta transformasi proses bisnis," ungkap Fina Eliani, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT TIMAH Tbk.

Untuk mencapai target 2025 yang ambisius - produksi bijih timah 21.500 ton Sn, produksi logam timah 21.545 metrik ton, dan penjualan 19.065 metrik ton - TINS menerapkan lima strategi utama:

  1. Peningkatan pengelolaan cadangan dan sumberdaya
  2. Kepemimpinan pasar dan agresivitas produksi
  3. Penguatan hilirisasi dengan mendukung ekosistem kendaraan listrik dan industri energi
  4. Transformasi proses bisnis
  5. Pengembangan Center of Excellence dan optimalisasi portofolio

Harga rata-rata logam timah Cash Settlement Price LME di semester I 2025 mencapai USD32.115,77 per metrik ton, naik 9,6% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Bloomberg memproyeksikan harga timah akan berada di kisaran USD29.000-34.000 per metrik ton.

Meskipun masih menghadapi risiko dari ketidakpastian kebijakan tarif perdagangan Amerika Serikat dan faktor geopolitik, fundamental pasar timah tetap kuat didukung permintaan global yang resilient dan supply yang terbatas.

Sebagai anak usaha MIND ID dan anggota International Tin Association (ITA), TINS terus mempertahankan posisinya sebagai produsen timah terkemuka sekaligus eksportir timah terbesar dunia dengan produk "Banka Tin", "Kundur Tin", dan "Mentok Tin" yang telah terdaftar di London Metal Exchange.


PT TIMAH Tbk beroperasi di Bangka Belitung, Kepulauan Riau, dan Riau dengan empat lini bisnis utama: pertambangan timah, hilirisasi timah, pertambangan non-timah, serta bisnis berbasis kompetensi. Saham perusahaan telah tercatat di Bursa Efek Indonesia sejak 1995.

Bagikan Artikel